Artis dan Pemilukada

Artis terjun ke dunia politik, biasa saja. Artis juga warga negara biasa yang punya hak memilih dan dipilih. Di dunia perpolitikan, kita bahkan bisa melihat beberapa artis yang “bisa bicara” dan bukan sekadar “penyumbang suara” bagi partai. Bahkan di luar negeri, Amerika tercatatat memiliki beberapa Presiden dan Gubernur dengan latar belakang artis dan ternyata mempunyai kinerja yang bisa dibilang bagus.

Setiawan Djodi, Sophan Sopian, Marissa Haqua, Rieke Diah Pitaloka, Sys NS dan beberapa artis lain merupakan contoh artis Indonesia yang sukses berkarir di parpol dan punya kemampuan untuk bicara.

Keberhasilan Rano Karnojadi Bupati Tangerang dan Dede Yusuf menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat juga merupakan bukti bahwa artis mendapat kepercayaan dari masyarakat untuk menjadi pemimpin.

Tapi, mendengar pencalonan Saiful Jamil untuk menjadi wakil walikota Serang, Julia Perez di Pacitan, Maria Eva dan Venna Melinda di Blitar, sepertinya terkesan latah.

Soal pengalaman, ada yang belum pernah berkarir di parpol. Kemudian tidak mempunyai background ilmu politik sama sekali. Bagaimana mungkin tiba-tiba memimpin daerah yang cukup besar?

Persoalannya, inilah demokrasi. Tidak ada salahnya mencalonkan Julia Perez, semuanya berhak. Namun demikian, secara jujur, kita yakin jika keputusan partai mencalonkan artis hanyalah efek latah akan keberhasilan Rano Karno dan Dede Yusuf, serta ketidakberdayaan partai tersebut menjaring pemilih dan ketidakmampuan partai mencetak kader-kader mereka yang militan sehingga terpaksa mencalonkan artis.

Dengan munculnya Julia Perez, Maria Eva dan sejumlah artis lain yang mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Muncul kekhawatiran akankan mereka mampu membawa kemajuan daerahnya hanya dengan popularitas dan kecantikan?.

Untuk itulah, harusnya ada persyaratan bagi mereka yang mengajukan diri ikut pemilu. Minimal perlunya adanya pengalaman organisasi dan berpolitik sebelum menjadi calon kepala daerah. Dengan demikian setiap orang boleh mengajukan diri menjadi calon kepala daerah, tetapi tidak semua orang bisa. Dengan kualifikasi ini pula diharapkan ada penempatan orang yang tepat di posisi yang tepat. Yang kita perlukan adalah the right man on the right place, the right man on the right job.

Di samping itu, artis yang dipilih harus memiliki track record yang cukup baik. Sebab pemimpin adalah panutan, ia akan di jadikan panutan bagi masyarakatnya. Jika dia memiliki track record yang buruk seperti suka dugem, pergi ke tempat maksiat atau hal-hal tabu lainnya, tentu dia tidak bisa dijadikan panutan.

Tentu aturan ini bukan untuk mendeskreditkan artis. Namun, semua profesi yang hanya mengandalkan popularitas dan nama besar perlu ada kualifikasi tambahan dalam bidang politik. Karena itu, kapabilitas artis yang direkrut partai untuk menjadi kepala daerah sebaiknya memiliki pengalaman terlebih dahulu di bidang politik, atau mereka yang dipandang betul-betul memiliki kualitas. Dengan demikian, diharapkan Indonesia bisa segera bangkit dari keterpurukan, keterpurukan akibat dipimpin oleh pemimpin yang tidak mempunyai kapabilitas dan tauladan. Wallahua’lam bis showab.

Beragama Itu Totalitas

Dalam surat al-Baqarah ayat 208 Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.

Menurut para ulama, maksud ayat di atas adalah bahwa seorang yang menyatakan dirinya adalah muslim, wajib baginya untuk menerima apa yang ada dalam Islam dengan ikhlas secara keseluruhan, bukan setengah-setengah, bukan hanya memilih yang enak atau mudah saja dan meninggalkan yang susah, atau bahkan memilih hanya sesuai dengan kepentingan.

Memilih yang enak saja sesuai selera kita dan meninggalkan yang tidak kita suka hanya menunjukkan belum siapnya kita untuk memeluk agama ini. Sebab, memilih sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain hanya akan membuat kita tidak menjadi seperti apa yang diharapkan Allah melalui agama-Nya.

Seorang muslim diperintahkan untuk shalat, berpuasa, zakat, menjaga silaturahim, menjaga aurat tak lain agar ia mencapai derajat manusia yang tinggi di hadapan Allah, yaitu derajat taqwa dan ihsan. Mereka yang telah sampai pada derajat ini kemudian disebut Muttaqien dan Muhsin. Seorang yang telah mencapai derajat inilah yang akan merasakan betul manfaat hidup dan manfaat penciptaan sebagai manusia.

Ibarat membuat ayam bakar, kita harus menyiapkan bahan-bahan dan mengikuti proses pembuatannya untuk menghasilkan ayam bakar yang lezat. Bahan utamanya tentu adalah ayam, api, kecap, gula, garam, dll. Jika kita ingin membuat ayam bakar tetapi bahan-bahannya seperti ayam atau api tidak ada, suatu hal yang mustahil untuk mendapatkan hasil hidangan ayam bakar. Sedangkan urusan seberapa manis, atau seberapa asinnya rasa ayam bakar itu tergantung pada selera kita masing-masing, sebab itu bukan hal pokok dalam pembuatan ayam bakar.

Seperti pembuatan ayam bakar di atas, jika kita memilih untuk menanggalkan pakaian yang menutup aurat, masih suka dugem, masih suka meninggalkan shalat, manalah mungkin kita mencapat derajat taqwa dan mendapatkan tempat di surga nanti?. Sedangkan urusan pakaian penutup aurat dengan warna hitam atau merah, shalat subuh dengan qunut atau tidak, itu bukanlah hal urgen, semuanya kembali kepada rasa keyakinan kita pada apa yang kita lakukan (dalam Islam ini disebut hal-hal furu’ atau cabang). Selama kita tidak meninggalkan shalat, selama kita tidak berpakaian tetapi telanjang atau bergoyang dengan pakaian minim, insya Allah kita masih dalam jalan yang harapkan oleh-Nya. Selanjutnya, marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing “apakah hingga saat ini kita masih memilah-milih dalam melaksanakan perintah agama?”.

1 Muharram (Sebuah Catatan Kecil)

Tanggal 1 Muharam merupakan tanggal di mana sebagian Umat Islam merayakannya sebagai tahun baru Islam. Tiap tahunnya umat Islam merayakannya dengan penuh semangat yang tersalurkan dalam kegiatan-kegiatan seperti tadarus serta sima’an, mendengar ceramah di tabligh akbar, do’a/dzikir bersama, dll.

Walau harus diakui, sebenarnya belum ada data valid yang menunjukkan apakah hijrahnya Rasul dari Makkah ke Madinah adalah pada waktu Muharam. Terlepas dari hal ini, laiknya bukan perbedaan dan perdebatan yang mengemuka, tetapi bagaimana kita memaknai dan mengambil hikmah dari 1 Muharam yang telah dianggap sebagai awal hari Hijrah Rasul ke Madinah.

Sebagaimana maklum, bahwa hijrahnya Rasul ke Madinah merupakan awal dari kebangkitan Islam. Setelah melakukan da’wahnya di Makkah dengan penuh kesabaran dari berbagai cobaan yang dilakukan oleh para Musyrikin Quraisy, akhirnya Allah memerintahkan Nabi dan para Sahabat untuk berhijrah ke Madinah. Karena ini adalah perintah Allah, maka tak heran hanya dalam waktu tak lama Islam berkembang begitu pesat. Hijrah Rasul bukan semata ide dari Rasul, tetapi merupakan perintah Allah yang pasti terkandung makna dibalik semuanya. Hingga Hijrah bisa dimaknai meninggalkan sesuatu demi Allah dan Rasulnya, demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada di sisi-Nya, dan demi Rasul-Nya artinya ittiba’ dan senang terhadap tuntunan Rasul-Nya.

Jika kita kaitkan makna hijrah dengan konteks kekinian khususnya Indonesia, apa yang dilakukan Rasul yakni hijrah dari Makkah ke Madinah mungkin tidak bisa kita lakukan, tetapi jelas hijrah mengandung hikmah yang luar biasa. Beberapa Ulama menjelaskan bahwa makna hijrah adalah meninggalkan Negeri (keadaan) syirik menuju negeri Tauhid, meninggalkan keadaan bid’ah menuju keadaan Sunnah, serta hijrah (meninggalkan) keadaan yang penuh maksiat menuju kekeadaan yang sedikit maksiat. Firman Allah SWT:

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 100).

Tak dipungkiri bahwa momen (waktu), juga sesuatu yang spesial bisa menyadarkan kita dari “kelelapan tidur”. Begitu pula 1 Muharam yang dijadikan awal tahun baru Islam, ia dapat dijadikan momen tepat yang dapat menyadarkan kembali manusia dari kelelapan tidurnya dari mimpi-mimpi dunia yang tak terbatas, membangunkan dari keterlenaan akan kehidupan yang fana, serta mengeluarkan dari kegelimangan maksiat. Tentu, hal ini jika kita dapat memaknai apa itu Hijrah sebagaimana yang dilakukan Rasul. Dan sudah barang tentu pula, bahwa bukan hanya pada 1 Muharam kita dapat “berhijrah”, setiap saat kita diwajibkan berhijrah dengan harapan mencapai yang lebih baik dalam segala hal yang diridhoi oleh Allah sebagaimana firmanNya dalam surah an-Nisa: 100, tetapi sekali lagi, momen spesial kadang lebih bisa menyadarkan kita ketimbang waktu-waktu yang biasa. Wallahua’lam.

Hidup Harus Punya Cita-Cita

Teman-temanku…hidup kita di dunia ini cuma sesaat, bisa dibilang hanya 35 tahun waktu aktif kita untuk mengisi kehidupan ini. Tugas kita di dunia tidak lebih hanya untuk berbuat kebaikan, beribadah kepada Sang Khaliq, sesuai dengan firman Allah “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.

Teman-teman para wisudawan, jika kita kehilangan harta, kita masih bisa mencarinya, kita masih punya waktu untuk memiliki yang lebih banyak dari yang telah hilang. Jadi harta bukanlah segalanya, ia hanya barang kecil yang ada di sekitar kita.

Jika kita kehilangan ayah, kita masih memiliki ibu. Kehilangan ibu, masih ada anak, masih ada kakak, masih ada saudara yang bisa menemani kita dalam kehidupan ini. Jadi kehilangan seseorang yang kita cintai bukanlah merupakan kehilangan segalanya.

Jika kita kehilangan jabatan, masih ada jabatan lain yang menunggu. Dan jabatan bukanlah segalanya, baik tidaknya kita bukan dinilai dari jabatan, tetapi dari apa yang kita perbuat untuk kebaikan orang lain.

Tetapi, jika kita kehilangan cita-cita, kehilangan impian, maka hilanglang semuanya. Kehilangan harta masih bisa dicari gantinya, kehilangan jabatan masih ada jabatan lain yang menunggu, kehilangan orang yang dicintai masih ada orang lain yang siap menemani kita, kehilangan cita-cita dan impian berarti kita kehilangan masa depan.

Teman-teman…,Indonesia ada hingga kini tidak lain karena adanya cita-cita dan impian para pendahulu kita, cita-cita akan adanya Indonesia yang merdeka, Indonesia yang berdaulat dan menjadi negara yang besar. Indonesia bukanlah negara kecil jika masyarakatnya mempunyai cita-cita dan impian yang besar, cita-cita dan impian yang tinggi.

Teman-teman wisudawan, hidup kita hanya sebentar, jika hidup kita yang sebentar ini tidak mempunyai cita-cita dan impian besar untuk kemajuan, apalah artinya hidup ini. Bukanlah manusia jika hidup tanpa perubahan dan kemajuan, dan perubahan serta kemajuan itu terlahir dari sebuah cita-cita dan impian. Maka, mari bersama-sama kita bangun impian dan cita-cita kita demi terciptanya kehidupan yang maju dan makmur. Apa yang terjadi hari ini pada dasarnya adalah mimpi-mimpi kita kemarin, dan apa yang akan terjadi esok adalah buah dari mimpi dan cita-cita kita hari ini,. Jadi, mari kita menciptakan cita-cita dan impian besar hari ini agar impian dan cita-cita besar kita bisa terwujud esok.

Note:

Pesan Prof. Dr. Malik Fadjar, M.Sc. dalam acara ramah tamah dengan wisudawan pascasarjana UMM Malang, 04 desember 2009.

Saatnya Ganyang Para Pengemis Rakyat.

Hari ini, Rabu 9 desember 2009, semua masyarakat di belahan dunia merayakan dan menandai tanggal 9 desember sebagai hari anti korupsi sedunia, tidak terkecuali masyarakat Indonesia. Dengan jumlah peserta yang besar-besaran dan tidak seperti biasanya, momen ini diharapkan bisa menyadarkan para pejabat yang duduk di pemerintahan dan orang-orang penting untuk mau dan bisa menghilangkan kebiasaan melakukan korupsi, sehingga Indonesia bisa memperbaiki citra sebagai salah satu negara terkorup di dunia. Sebagai sebuah negara yang terkenal dengan sikap ketimuran yang sopan, negara dengan petatah petitih mulia sejak ratusan tahun lalu dan sebagai negara religius, kita malu jika korupsi menjadi bagian dari kehidupan kita. Meskipun bisa dimaklumi bahwa korupsi sebenarnya adalah warisan dari penjajahan kolonial, tetapi sebagai negara yang telah melewati lebih setengah abad kemerdekaan seharusnya kita bisa menghilangkan penyakit terjijik ini.

Birokrasi yang berbelit-belit karena kurangnya uang pelicin adalah salah satu contoh bentuk praktek korupsi yang telah membudaya. Bahkan bargaining terjadi pada praktek suap dan uang pelicin ini, layaknya jual beli. Praktek bargaining ini yang saya sebut dengan MENGEMIS. Mengemis, karena mereka (para koruptor) meminta dikasihani untuk sejumlah uang layaknya para pengemis di pinggir-pinggir jalan. Sungguh kasihan ketika sebuah institusi gagal mendapatkan bantuan dari pemerintah hanya karena kalah dalam bargaining dengan institusi lain yang sebenarnya tidak layak mendapatkan bantuan. Bargaining ini tentunya bargaining antara institusi tersebut dengan pihak/ bagian yang mengurusi aliran dana bantuan tersebut. Dengan jujur saya katakan (berdasarkan pengalaman) bahwa bargaining itu bisa mencapai 25%-45 % dari uang bantuan dari pemerintah. Artinya, ketika sebuah institusi tersebut mendapatkan bantuan misalnya 100 juta, makan 25 juta harus masuk kantong mereka yang mengurusi dana bantuan pemerintah ini. Bayangkan jika suatu daerah ada 100 intstitusi dengan bantuan dari pemerintah masing-masing 100 juta, maka 2,5 milyar menjadi milik para koruptor tersebut. EDAN….!!!

Yang lebih edan lagi, praktek mengemis ini bukan lagi menjadi hal tabu. Setiap kegiatan apapun yang berurusan dengan birokrasi selalu harus ada uang pelicin. Mulai dari 5 ribu hingga jutaan, dengan bahasa “uang rokok”, “uang capek”, “uang makan siang”, dan bahasa-bahasa lain. Semuanya sama, mereka semua pada hakikatnya mengemis, mengemis dari rakyat yang sebenarnya jauh lebih miskin dari mereka.

Jika para pengemis yang berkeliaran di pinggir jalan saja mendapat fatwa haram MUI, bagaimana dengan para pengemis rakyat tersebut???. Semoga saja, momen hari anti korupsi dunia yang jatuh dan dirayakan pada tanggal 9 desember ini bisa dijadikan patokan dan start kuat untuk mengganyang para koruptor dan membumi hanguskan praktek korupsi dengan tanpa pilih kasih. “Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, jadikanlah Negara Indonesia ini menjadi baldatan toyyibah, negara makmur gemar ripah loh jinawi dan negara yang masyarakatnya selalu bisa mensukuri apa yang telah Engkau berikan”.