Islam

1 Muharram (Sebuah Catatan Kecil)

Tanggal 1 Muharam merupakan tanggal di mana sebagian Umat Islam merayakannya sebagai tahun baru Islam. Tiap tahunnya umat Islam merayakannya dengan penuh semangat yang tersalurkan dalam kegiatan-kegiatan seperti tadarus serta sima’an, mendengar ceramah di tabligh akbar, do’a/dzikir bersama, dll.

Walau harus diakui, sebenarnya belum ada data valid yang menunjukkan apakah hijrahnya Rasul dari Makkah ke Madinah adalah pada waktu Muharam. Terlepas dari hal ini, laiknya bukan perbedaan dan perdebatan yang mengemuka, tetapi bagaimana kita memaknai dan mengambil hikmah dari 1 Muharam yang telah dianggap sebagai awal hari Hijrah Rasul ke Madinah.

Sebagaimana maklum, bahwa hijrahnya Rasul ke Madinah merupakan awal dari kebangkitan Islam. Setelah melakukan da’wahnya di Makkah dengan penuh kesabaran dari berbagai cobaan yang dilakukan oleh para Musyrikin Quraisy, akhirnya Allah memerintahkan Nabi dan para Sahabat untuk berhijrah ke Madinah. Karena ini adalah perintah Allah, maka tak heran hanya dalam waktu tak lama Islam berkembang begitu pesat. Hijrah Rasul bukan semata ide dari Rasul, tetapi merupakan perintah Allah yang pasti terkandung makna dibalik semuanya. Hingga Hijrah bisa dimaknai meninggalkan sesuatu demi Allah dan Rasulnya, demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada di sisi-Nya, dan demi Rasul-Nya artinya ittiba’ dan senang terhadap tuntunan Rasul-Nya.

Baca Kelanjutannya

Siapakah Ismail Anda?

Keihklasan dan kesadaran bahwa apa yang kita miliki adalah milik Allah sebagai sebuah amanah yang diberikan kepada kita adalah hal mutlak yang harus ada dalam hati kita. Maka ketika milik Allah tersebut diminta dn diambil oleh yang punya atau untuk diberikan kepada yang lain, kita tidak boleh menolak, marah apalagi membenci Sang Pemberi.

Nabi Ibrahim memahami betul makna dari amanah itu. Ketika pengharapan yang begitu lama akan lahirnya buah keturunan itu datang dengan lahirnya Ismail, tiba-tiba saja Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan Ismail. Tetapi dengan penuh keikhlasan Ibrahim memenuhi perintah Allah tersebut. Suatu hal yang sangat berat jika bukan karena iman yang kokoh, iman yang menyeluruh, penuh dengan kesadaran bahwa segala sesuatu adalah milik Allah semata, kesadaran bahwa hidup di dunia ini dan segala hal yang kita lakukan adalah untuk beribadah kepada-Nya.

Baca Kelanjutannya

Memaknai, Bukan Sekedar Merayakan

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa ilaaha illa Allahu wa Allahu akbar, Allahu Akbar wa lillaahilhamd.

Gema takbir membahana di seantero jagad sebagai tanda datangnya hari Iedul Adha, hari dimulainya rukun haji bagi mereka yang berada di Makkah untuk menyempurnakan rukun Islam, dan hari berkurban bagi mereka yang belum berkesempatan mengunjungi bayt Allah (rumah Allah). Berkurban, artinya keikhlasan berderma dengan sesama, keikhlasan dalam berbagi nikmat yang telah Allah berikan. Sebuah ajaran mulia yang menunjukan Islam sebagai agama rahmat lil ‘alamiin, agama universal. Terkait perintah berkurban, Allah SWT berfirman:

More >

Jahiliyah Modern

Secara bahasa, jahiliyah berasal dari kata kerja jahala yang berarti bodoh, maka secara harfiyah bisa disimpulkan bahwa bodoh bisa diartikan sebagai tidak bisa membaca, menulis, menjawab soal, atau melakukan hal-hal yang mayoritas orang bisa melakukannya, atau bodoh juga berarti tidak mempunyai pengetahuan ilmiah, primitif, tidak berperadaban dan sebagainya. Dalam kajian Islam, kata jahiliyah sering disematkan kepada Arab pra-Islam. Hanya saja, pengertian jahiliyah yang disematkan kepada Arab pra Islam berbeda dengan arti jahiliyyah secara bahasa.

Mari kita berfikir sejenak, bukankah bangsa Arab sebelum Nabi Muhammad SAW terkenal dengan kemahiran dibidang Sya’ir? Tidakkah kita tahu bahwa bangsa Arab adalah mereka yang selalu menjaga tradisi dengan menghafal runtutan nasab mereka hingga runtutan yang sejauhnya?. Dengan demikian kata jahiliyyah yang disematkan kepada Arab pra-Islam bukan bermakna bodoh dan primitif. M. Quraish Shihab dalam Mukjizat Al Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaaan Ghaib (Mizan, 1999) menyebut beberapa pengetahuan yang dimiliki masyarakat Arab, diantaranya dalam bidang: Astronomi, tetapi terbatas pada penggunaan bintang untuk petunjuk jalan, atau mengetahui jenis musim. Meteorologi, mereka gunakan untuk mengetahui cuaca dan turunnya hujan. Pengobatan berdasarkan pengalaman. Perdukunan dan semacamnya. Bahasa dan Sastra (sering diadakan musabaqah [perlombaan] dalam menyusun syair atau petuah dan nasehat. Syair-syair yang dinilai indah, digantung di Ka’bah, sebagai penghormatan kepada penggubahnya sekaligus untuk dapat dinikmati oleh yang melihat atau membacanya. Penyair mendapat kedudukan yang istimewa. Mereka dinilai sebagai pembela kaumnya. Dengan syair mereka mengangkat reputasi satu kaum atau seseorang dan juga sebaliknya dapat menjatuhkannya).

More >

Manisnya Iman

Atheis   : Kenapa anda beriman (percaya) kepada (adanya) Tuhan padahal anda tak bisa melihat-Nya?

Mu’min : Karena saya merasakan manisnya keimanan saya.

Atheis   : Bisakah anda menjelaskan maksud merasakan manis tanpa bisa melihat dan menyentuh-Nya?

Mu’min : Pernahkah anda makan permen?

Atheis   : Pernah dan sering.

Mu’min : Bagaimana rasanya?

Atheis   : Manis.

Mu’min : Bisakan anda melihat rasa manis tersebut?

Atheis   : Tidak.

Mu’min : Begitulah rasanya beriman pada Tuhan, kita bisa merasakan manisnya meski tidak melihat & menyentuh Tuhan.