Pendidikan

Hidup Harus Punya Cita-Cita

Teman-temanku…hidup kita di dunia ini cuma sesaat, bisa dibilang hanya 35 tahun waktu aktif kita untuk mengisi kehidupan ini. Tugas kita di dunia tidak lebih hanya untuk berbuat kebaikan, beribadah kepada Sang Khaliq, sesuai dengan firman Allah “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.

Teman-teman para wisudawan, jika kita kehilangan harta, kita masih bisa mencarinya, kita masih punya waktu untuk memiliki yang lebih banyak dari yang telah hilang. Jadi harta bukanlah segalanya, ia hanya barang kecil yang ada di sekitar kita.

Jika kita kehilangan ayah, kita masih memiliki ibu. Kehilangan ibu, masih ada anak, masih ada kakak, masih ada saudara yang bisa menemani kita dalam kehidupan ini. Jadi kehilangan seseorang yang kita cintai bukanlah merupakan kehilangan segalanya.

Baca Kelanjutannya

Pesantren, antara modernisasi dan mempertahankan khittah

Pondok secara bahasa berasal dari kata Funduuk yang artinya tempat penginapan. Kemudian di Indonesia kata pondok ini bermakna perumahan sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar yang merupakan tempat tinggal santri dalam menuntut ilmu. Istilah pesantren sendiri secara etimologis asalnya pe-santri-an yang berarti tempat santri/ murid. Sehingga pesantren dimaknai sebagai tempat menuntut ilmu kepada Kyai dimana santri menempati tempat tinggal (pemondokan) yang ada.

Dulu, pusat pendidikan Islam adalah langgar masjid atau rumah sang guru, di mana murid-murid duduk di lantai, menghadapi sang guru, dan belajar mengaji. Waktu mengajar biasanya diberikan pada waktu malam hari biar tidak mengganggu pekerjaan orang tua sehari-hari. Menurut Zuhairini (1997:212), tempat-tempat pendidikan Islam nonformal seperti inilah yang “menjadi embrio terbentuknya sistem pendidikan pondok pesantren.” Ini berarti bahwa sistem pendidikan pada pondok pesantren masih hampir sama seperti sistem pendidikan di langgar atau masjid, hanya lebih intensif dan dalam waktu yang lebih lama.

More >

Kiai Pesantren masa depan

Secara teknis, pesantren adalah tempat dimana santri (penuntut ilmu) tinggal bersama dengan Kyai. Sejarah mencatat bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan pertama di Indonesia, sehingga tidak salah jika kemudian disebut sebagai lembaga indigenous indonesia. Sepanjang sejarahnya pula, lembaga Islam ini telah melahirkan ribuan bahkan lebih para lulusan yang berkualitas dan memberikan sumbangsih yang luar biasa bagi kemajuan Indonesia. Utamanya melahirkan Ulama’ yang bukan hanya diakui dinegara sendiri bahkan diakui negara Timur Tengah yang nota bene adalah sumber dari keilmuan Islam itu sendiri. Sebut saja Imam Nawawi al-Bantani yang pernah menjadi pengajar di Timur Tengah dan amat diakui intelektualitas keislamannya.

Seiring perkembangan zaman, pesantren agaknya mulai kewalahan dalam menghadapi persoalan yang ruwet dan kompleks diera global dan ditengah gencarnya arus modernisasi dari Barat. Sehingga tak jarang, pesantren yang masih memegang prinsip normativitas-sakralitas makin lama makin surut ditelan zaman.

More >

Charismatic Leadership

Istilah kepemimpinan sebenarnya telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Sejarah mencatat bahwa banyak pembahasan mengenai kepemimpinan, baik di Mesir, China, dan Yunani hingga di dunia Islam. Seorang sejahrawan Muslim terkenal, Ibn Khaldun dalam Muqaddimahnya menjelaskan bahwa manusia oleh Allah diberikan insting untuk selalu hidup berdampingan, dengan kata lain bahwa manusia sejak masa dilahirkannya telah menjadi makhluk sosial. Dengan inilah manusia menciptakan sebuah peradaban. Tetapi, selain insting untuk selalu hidup berdampingan dan saling membutuhkan, manusia juga menurut Ibn Khaldun diberikan watak agresif dan tidak adil yang membuatnya akan selalu saja ada pertikaian diantara mereka sehingga diperlukan seseorang pemimpinan yang kemudian bertugas sebagai wazi’ (pengendali).

Kepemimpinan berasal dari kata memimpin (to lead) yang memuat dua hal pokok yaitu: Pemimpin sebagai subjek, dan Yang dipimpin sebagai objek. Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya.

More >

Generasi Bangsa dicetak dalam keluarga

Keluarga dalam Islam disebut usrah, nasl, ‘ali, dan nasb. Keluarga bisa terbentuk melalui perkawinan, persusuan, dan pemerdekaan. Kalangan antropologi memaknai keluarga sebagai kesatuan social terkecil yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk social yang memiliki tempat tinggal dan ditandai dengan kerja sama ekonomi, berkembang, mendidik, melindungi, merawat dan sebagainya. Sebuah keluarga minimal terdiri dari ayah, ibu dan anak.

Ahmad Tafsir dan juga banyak kalangan menilai bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan lebih penting. Ada dua alasan kenapa pendidikan di keluarga lebih penting:

More >