Article

Mau dibawa ke mana Indonesiaku?

Dalam magnum opusnya “Muqaddimah”, Ibn Khaldun menjelaskan tentang tahap-tahap timbul tenggelamnya suatu negara menjadi lima tahap, yaitu : Tahap konsolidasi, dimana otoritas negara dengan dasar “demokrasi” didukung oleh masyarakat (`ashabiyyah). Tahap tirani. Tahap penyalahgunan wewenang otoritas negara untuk kepentingan penguasa. Tahap pengamanan dari munculnya ancaman dimana penguasa selalu memandang kelompok kritis sebagai lawan. Dan tahap keruntuhan, dimana sistem kekuasaan tidak lagi berfungsi.

Tahap-tahap itu menurut Ibnu Khaldun memunculkan tiga generasi, yaitu: Generasi Pembangun, yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya. Generasi Penikmat, yakni mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan , menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. Generasi yang tidak lagi memiliki hubungan emosionil dengan negara. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa mempedulikan nasib negara. Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga ini, maka keruntuhan negara sebagai sunnatullah sudah di ambang pintu, dan menurut Ibnu Khaldun tiap proses ini berlangsung sekitar satu abad.

Menarik jika melihat kondisi bangsa kita tercinta ini, dimana Indonesia merdeka pada tahun 1945. Dengan segala kesederhanan dan ketulusan membangun bangsa yang berdaulat, para pejuang kita dahulu membangun Indonesia dengan cucuran darah dan peluhan keringat perjuangan hingga akhirnya kita merdeka dan memproklamirkan diri menjadi Negara bersatu, berdaulat. Bolehlah kita menyebut masa ini (perjuangan terbebas dari penjajahan) sebagai masa/generasi pembangun.

Jika kita tarik mundur dari tahun sekarang 2009 menuju tahun 1945, maka kita telah menikmati 64 tahun masa kemerdekaan kita. kemudian kita kaitkan dengan teori Ibn Khaldun bahwa tahapan timbul tenggelamnya suatu pemerintahan adalah 100 tahun atau satu abad, maka yang terlihat adalah keironian dimana belum seratus tahun kita merdeka/ membangun bangsa ini, tetapi justru saat ini telah muncul generasi ketiga, yaitu generasi yang tidak mempunyai hubungan emosional dengan Negara, pemimpin yang hanya mementingkan pribadinya saja. Korupsi menjadi bagian hidup, kesenangan sesaat dianggap dewa, kemunafikan dimana-mana, tertawa diatas penderitaan orang lain, tidak meratanya pendapatan masyarakat, dll (ada yang mau nambahin?).

Kompleksitas, itulah barangkali keadaan corat marutya Negara kita. Sampe-sampe, saking sudah pusingnya melihat kerusakan yang demikian, teman saya pernah berujar mending tidak usah terlahir ke dunia jika hanya menghadapi keadaan bangsa yang morat marit ini. Segala nasehat, baik yang melalui cara baik ataupun dengan anarki seolah tak membuat bergeming para “wakil rakyat” diatas. Mereka seolah Dewa yang untouchable, bebas melakukan apa saja walau itu keluar dari Nurani. Masa orde baru yang digantikan dengan era Reformasi seakan tak berdampak sedikitpun. Mereka yang dulu pengikut orde baru tak mau ketinggalan, bukan bertobat tetapi dengan berpura-pura baik. Hingga yang muncul bukan lagi bermuka dua (munafik) tetapi lebih dari itu bermuka tiga, empat, lima, sepuluh bahkan (maaf  batasnya hanya sepuluh). Bahkan, kini gedung wakil rakyat tersebut  sebagian bukan diisi oleh mereka yang berkompeten dibidangnya, tetapi diisi oleh para artis yang dapat melenggang ke sana dengan modal popularitas, memprihatinkan. Kompleksitas ini ditambah dengan banyaknya kegiatan yang hanya mementingkan para kapitalis semata dan mengkaburkan nilai-nilai luhur budaya Indonesia seperti adanya ajang Miss Indonesia dan keikutsertaannya dalam ajang Miss Universe yang menimbulkan perdebatan.

Dengan baru dilantiknya Kabinet Indonesia Bersatu (KIB II) pada tanggal 20 Oktober kemaren, kita  mempunyai harapan besar agar Indonesia yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan jiwa dan raga ini menjadi bangsa yang betul-betul berdaulat dengan masyarakatnya yang hidup dalam kemakmuran. Akankah keadaan bangsa kita bisa berbeda dari pemikiran Ibn Khaldun? Kita lihat saja.

Referensi: Ibn Khaldun. Muqaddimah. Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993.

Gambar: http://media.photobucket.com/

47 Responses to “Mau dibawa ke mana Indonesiaku?”

  1. sunflo
    November 11, 2009 at 10:09 am #

    mau dibawa kemana indonesia?? tergantung yg pegang kemudi, n kalo mo liat indonesia di masa datang… liat saja generasi mudanya di masa kini…^^
    .-= Tulisan terakhir sunflo ..Inspirasiku: Kreasi Kain Flanel Karya Mereka =-.

    • Wong Jalur
      November 11, 2009 at 12:33 pm #

      Betul Mba’ Sun, kata oranga bijak; Pemuda itu ibarat tiangnya Negara, jika pemudanya hancur maka masa depan negara tersebut suram.

  2. Alwi
    November 14, 2009 at 1:31 pm #

    Hingga yang muncul bukan lagi bermuka dua (munafik) tetapi lebih dari itu bermuka tiga, empat, lima, sepuluh bahkan (maaf batasnya hanya sepuluh)

    Kalau bermuka sebelas gak ada yaaaa … wekekekekek
    .-= Tulisan terakhir Alwi ..Upgrade WordPress ke versi 2.8.6 =-.

  3. Pecinta Kuliner
    December 2, 2009 at 10:42 am #

    Mari kita wujudkan kepedulian thd bangsa ini, ;) salah satu bentuk kepedulian kita sebagai warga bangsa ini adalah dengan blogging…
    Daripada berbuat anarkis dg alasan peduli terhadap bangsa.. ya mendingan nge-blog aja.. :ngakak:
    [nyambung ak sih :mangkel: ]

  4. cyzko
    December 3, 2009 at 1:40 pm #

    kita harus tetap semangat mencintai NKRI ini kita hanya bisa berharap semoga nantinya salah satu dari kita melahirkan pemimpin bangsa yang mampui menjadi nahkoda kepada kemakmuran bangsa… :setuju:

  5. tips beli rumah
    June 7, 2010 at 5:19 am #

    kalau pemimpin nya masih kayak gini…cuma mikirin…gedung dpr yang barulah…bawa ke laut aja indonesia…tapi gak lah..pemimpin nya aj yang d buang k laut……negara biar kita yang mampu menjaga dan menjadikan lebih baik…yang betrjuang

Leave a Reply