Saatnya Ganyang Para Pengemis Rakyat.

Hari ini, Rabu 9 desember 2009, semua masyarakat di belahan dunia merayakan dan menandai tanggal 9 desember sebagai hari anti korupsi sedunia, tidak terkecuali masyarakat Indonesia. Dengan jumlah peserta yang besar-besaran dan tidak seperti biasanya, momen ini diharapkan bisa menyadarkan para pejabat yang duduk di pemerintahan dan orang-orang penting untuk mau dan bisa menghilangkan kebiasaan melakukan korupsi, sehingga Indonesia bisa memperbaiki citra sebagai salah satu negara terkorup di dunia. Sebagai sebuah negara yang terkenal dengan sikap ketimuran yang sopan, negara dengan petatah petitih mulia sejak ratusan tahun lalu dan sebagai negara religius, kita malu jika korupsi menjadi bagian dari kehidupan kita. Meskipun bisa dimaklumi bahwa korupsi sebenarnya adalah warisan dari penjajahan kolonial, tetapi sebagai negara yang telah melewati lebih setengah abad kemerdekaan seharusnya kita bisa menghilangkan penyakit terjijik ini.

Birokrasi yang berbelit-belit karena kurangnya uang pelicin adalah salah satu contoh bentuk praktek korupsi yang telah membudaya. Bahkan bargaining terjadi pada praktek suap dan uang pelicin ini, layaknya jual beli. Praktek bargaining ini yang saya sebut dengan MENGEMIS. Mengemis, karena mereka (para koruptor) meminta dikasihani untuk sejumlah uang layaknya para pengemis di pinggir-pinggir jalan. Sungguh kasihan ketika sebuah institusi gagal mendapatkan bantuan dari pemerintah hanya karena kalah dalam bargaining dengan institusi lain yang sebenarnya tidak layak mendapatkan bantuan. Bargaining ini tentunya bargaining antara institusi tersebut dengan pihak/ bagian yang mengurusi aliran dana bantuan tersebut. Dengan jujur saya katakan (berdasarkan pengalaman) bahwa bargaining itu bisa mencapai 25%-45 % dari uang bantuan dari pemerintah. Artinya, ketika sebuah institusi tersebut mendapatkan bantuan misalnya 100 juta, makan 25 juta harus masuk kantong mereka yang mengurusi dana bantuan pemerintah ini. Bayangkan jika suatu daerah ada 100 intstitusi dengan bantuan dari pemerintah masing-masing 100 juta, maka 2,5 milyar menjadi milik para koruptor tersebut. EDAN….!!!

Yang lebih edan lagi, praktek mengemis ini bukan lagi menjadi hal tabu. Setiap kegiatan apapun yang berurusan dengan birokrasi selalu harus ada uang pelicin. Mulai dari 5 ribu hingga jutaan, dengan bahasa “uang rokok”, “uang capek”, “uang makan siang”, dan bahasa-bahasa lain. Semuanya sama, mereka semua pada hakikatnya mengemis, mengemis dari rakyat yang sebenarnya jauh lebih miskin dari mereka.

Jika para pengemis yang berkeliaran di pinggir jalan saja mendapat fatwa haram MUI, bagaimana dengan para pengemis rakyat tersebut???. Semoga saja, momen hari anti korupsi dunia yang jatuh dan dirayakan pada tanggal 9 desember ini bisa dijadikan patokan dan start kuat untuk mengganyang para koruptor dan membumi hanguskan praktek korupsi dengan tanpa pilih kasih. “Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, jadikanlah Negara Indonesia ini menjadi baldatan toyyibah, negara makmur gemar ripah loh jinawi dan negara yang masyarakatnya selalu bisa mensukuri apa yang telah Engkau berikan”.

Leave a comment

24 Comments.

  1. iya tuh bang.. miris banget yah??? sogok sana sogok sini.. kalo gak di sogok gak mau kerja.. jiaaah..
    :pukul:

  2. wah dapat jatah keduaxxx
    ganti theme niih?

  3. yang sangat disayangkan adalah aksi demonstrasi yang berujung dengan tindakan anarkis yang seperti yang terjadi di makassar.

    peringatan HAK ini setidaknya membuktikan pada kepala negara kita bahwa rakyat sangat mendukung beliau untuk memberantas korupsi

    • Betul mba’, tetapi jika menilik secara langsung bagmn kultur Makasar, saya sendiri berpendapat bahwa kejadian di Makasar itu adlh budaya (kebiasaan) di mana secara umum orang Mkasar memang spt itu, dan ini diamini oleh mreka temen2 saya yg berasal dari Makasar. Bhkn ada sbuah stigma bahwa jika ada aksi perang antar mahasiswa, keributan mahasiswa itu adalah Makasar. Maaf, saya bukn menjudge, ttp ini hanya opini saya, dan bisa salah ;) .

  4. ganyang para koruptor penghisap darah rakyat …. :pukul:

  5. Pengemis berbaju necis yang najis!

  6. pengemis diantara rimbunan permasalahan yang sebenarnya bukan kehendak hatinya sendiri…….heheh bilakah pengemis itu berkeliaran dalam lingkungan kita sendiri terhabisi?
    salam hangat selalu

    • Mksudnya itu terjadi karena sistem yg ada? Jika ya, saya sedikit sepakat. Sebab banyak para pejabat tersebut yg seblm menjadi pejbt getol menyuarakan anti korupsi dll, dan setlh naik ia terjebak pada situasi yg tidkk memungkinkan dia utk tidak bgt, akhirnya…ya…gitu deh… :tidur:

  7. gimana caranya berantas korupsi secara real?? tak hanya slogan2 ajah wong?? kan kita kudu masuk ke sistem penguasa…demo2 juga kagak ngaruh banyak..malah banyak madharatnya..soalnya banyak yg suka nunggangi.. :roll:

    • Mba’ Sunflo benr, demo2 mnrt saya juga ga terlalu efektif, justru melalui tulisan akan lebih mengena. Tp bukn berarti demo jg tidak bermanfaat, asalkn dilakukn dengan santun dan bijak, insya Allah pesan dari demonya bisa mengena.

  8. :setuju: mari kita berantas

  9. meskipun terlambat komeng,…tp tidak ada kata terlambat untuk memberantas korupsi

  10. suatu potret bangsa merdeka yang kembali terjajah ya , WJ..

  11. Negara ini terlalu besar Mustahal utk mengontrolnya… :mangkel:

  12. Memang “tikus” sangat mudah beranak :cry:

  13. hihihii….dirajang cuilik-cuilik trus disunduki, dibakar sebentar trus dibumbuin abis itu dikasih ke kucing. Wuiihh… bener2 dah :pukul: :pukul:

  14. asl…..kira2 bsa di hentikan gak ya cra sogok menyogok yamg ada di indonesi ini??????????????? :mad: :smile:

Leave a Reply


[ Ctrl + Enter ]