Anti akhadzti fuluusi min ghairi al-isti’dzan…ukhruji min hadzal bait…!
Sepenggal percakapan diatas diambil dari sinetron Saleha, sinetron yang mencoba menghadirkan suasana baru dengan sering menampilkan percakapan dengan menggunakan bahasa Arab. Barangkali ini diinspirasi film Ayat-Ayat Cinta yang begitu diapresiasi masyarakat muslim Indonesia, sehingga sinetron ini mencoba menghadirkan bahasa arab sebagai daya pikat muslim untuk mau menggandrungi sinetron ini. Tapi sayang, isi sinetron ini masih sama dengan sinetron kebanyakan dimana iri, dengki, benci, hasut, dan teman-temanya menjadi esensinya sehingga…begitulah…
Selain sinetron dewasa, sinetron remaja kita seolah mencoba membuat pandangan, atau juga legitimasi bahwa pacaran seperti yang tergambar dalam sinetron remaja tersebut adalah sesuatu yang biasa dan boleh serta sah-sah saja. Coba liat sinetron kita yang katanya Islami itu, rasanya belum mencerminkan keIslmannya. Mereka hanya melihat pasar, dan terciptalah sinetron yang marketable tapi tak mendidik. Sinetron yang hanya menampilkan kekerasan, kebencian, iri dengki dan tentunya jauh dari nilai. Hal ini diperparah dengan pemain-pemain sinetronnya yang –maaf- kadang tidak sesuai antara penampilannya di sinetron dengan kehidupan sehari-harinya.
Memang harus kita akui bahwa dunia entertainment kita kadang tak memperhatikan aturan, mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi berupa penghasilan yang sebanyak-banyaknya tanpa berusaha menghasilkan entertaint/ acara yang cerdas dan mendidik. Selain itu, selama ini kita juga belum bisa menghasilkan seorang Artis yang baik dan bersahaja semisal Siti Nurhaliza. Kita malah bangga dengan menghasilkan artis-artis karbitan yang hancur dari sisi moral, padahal ketika mereka telah menjadi artis tak ayal mereka juga menjadi panutan, terutama bagi anak-anak muda.
Okelah, artis juga manusia, tapi apakah dengan alasan manusia yang juga bisa salah lantas dijadikan alasan untuk keluar dari moral tanpa ada usaha untuk menunjukan dan menjadi panutan yang baik???.
Kembali pada persoalan sinetron, fenomena yang terjadi adalah sinetron kita telah membius anak-anak muda hingga virus-virus hedonisme, budaya borjuis, Individualis, kedengkian dan Instant dengan sangat mudah masuk menjalar dari pikiran hingga kehati mereka. Ngga’ gaul kalo ga’ punya Hp mahal, ngga’ gaul klo ga’ pernah jalan-jalan ke Mall, ngga’ gaul klo ga’ berpakaian seksi, dan istilah-istilah lainnya.
Adalah bijak jika para entertainer dan produsen Film dan yang berhubungan dengan hal ini untuk lebih jeli dalam membuat acara. Jangan hanya mementingkan soal rating, tapi juga moral. Ingat, anak muda adalah asset bangsa dan calon pembangun bangsa. Maju mundurnya Negara ini ada ditangan anak-anak muda, jika mereka sudah tercekoki dengan budaya Hedonisme, budaya Instant, dan Individualis, tak ayal lagi Negara kita yang sedang berkembang ini akan kembali lagi pada Negara terbelakang, padahal kita mempunyai SDA yang luar biasa dan SDM yang tak kalah dengan Negara lain. Wallahua’lam.
2 Comments.