Lima Agenda Tifatul Sembiring sebagai Menkominfo
Oct 22nd
Pengangkatan Tifatul Sembiring sebagai Mentri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) 2009-2014 menimbulkan nada pesimis dan optimis. Bagi mereka yang pesimis menyatakan bahwa kemajuan Internet khususnya di Indonesia akan mandeg dan sebagaian lagi menaruh optimis tinggi bahwa dia mampu membawa IT di Indonesia maju dengan alasan bahwa dia adalah seorang lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer. Menanggapi itu Tifatul Sembiring langsung memaparkan 5 langkah-langkah kongkrit yang akan dikerjakan. Ada beberapa poin yang ditekankan oleh Presiden untuk Menkominfo selama 2009 – 2014 mendatang.
Yang pertama, adalah penggalakkan IT untuk masuk ke lembaga pendidikan secara merata. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kompetensi SDM dan daya saing.
Kedua, ICT masuk ke bidang bisnis. Dengan dengan keterlibatannya IT di dunia bisnis, diharapkan kesenjangan digital bisa lebih ditekan.
Kerja Keras Kerja Cerdas Kerja Ikhlas
Oct 21st
Jika mendengarkan dan mengamati pidato Presiden ketika diangkat menjadi presiden kemarin, di samping kesiapannya bersama dengan para Mentri sebagai teman seperjuangan untuk memajukan ekonomi, keadilandan menjadikan Indonesia tempat yang nyaman, saya menangkap hal yang saya rasa itulah yang menjadi mesin penggerak kerja Presiden bersama para pembantunya yaitu kalimat “kerja keras kerja cerdas”. Kenapa saya katakan sebagai mesin penggerak?, karena dengan slogan dan patokan inilah mereka akan bekerja sebagai wakil rakyat guna kemajuan Bangsa 5 tahun ke depan.
Bekerja keras, saya memaknainya sebagai usaha yang terus tanpa mengenal lelah sebagai wakil rakyat untuk kemajuan bangsa dan tentunya kemakmuran rakyat Indonesia. Cerdas artinya dalam berbuat dan bekerja tidak serampangan, semua melalui pertimbangan yang matang. Salah satu hukum ekonomi yang terkenal adalah “pengeluaran yang sedikit untuk menghasilkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya”. Saya rasa kerja cerdas juga salah satunya berprinsip seperti itu, meskipun tidak monoton demikian.
Keindahan dalam balutan sakralitas
Oct 20th
Senang, deg-degan juga rasa takut hari itu bercampur baur dalam dirinya. Sebentar-bentar dia keluar kamar hanya untuk sekedar menyalurkan percampuran rasa hatinya pada alam dan manusia yang saat itu juga sedang banyak dirumahnya. Hari itu memang H-1 pernikahannya dengan seorang pujaan. Sembari terus menghafal “kalimat sakti” yang sebenarnya sudah hafal diluar “dengkul” karena saking hafalnya. Tetapi percampuran rasa membuatnya kadang lupa.
Pada hari H, perasaan itu memuncak dan klimaksnya adalah ketika harus mengucapkan kalimat sakti “Ijab Qabul”. Ketegangan menyelimuti semua keluarga yang berharap si pengucap kalimat sakti bisa dengan lancar dan tanpa harus mengulangi 2, 3, 4 atau bahkan 10 kali untuk menjadikan si pujaan hati sah menjadi miliknya. Dan….ketika si mempelai putra berhasil mengucapkan dengan lancar, pecahlah ketegangan itu berganti senyuman kebahagiaan yang tak terlukiskan. Suasana sakral yang ada membuat semuanya tegang dan begitu menghormati acara pernikahan khususnya “Ijab Qabul” antara dua mempelai. Tetapi, dibalik sakralitas itu tersimpan kebahagiaan yang luar biasa. Kebahagiaan hanya bagi mereka yang “SIAP” untuk mengarungi kehidupan berbeda, kehidupan yang sempurna.
Pesantren dalam arus Modernisasi
Oct 19th
Pondok Pesantren menurut para ahli dianggap sebagai lembaga pendidikan Islam yang pertama kali ada di Indonesia. Nurcholis Madjid mengatakan bahwa Pesantren adalah lembaga pendidikan indigenous. Sebagai lembaga indigenous, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya. Artinya, pesantren mempunyai keterkaitan yang erat dan tidak terpisahkan dengan lingkungannya. Sebuah lembaga pendidikan yang sangat unik juga terkenal dengan keistimewaanya yang telah banyak melahirkan para ahli dalam semua bidang, utamanya dibidang agama. Pada masa penjajahanpun pesantren tidak sedikit memberikan sumbangsih bagi kemerdekaan indonesia. Dengan keistimewaan itulah pesantren bisa eksis sampai sekarang. Hanya perkembangan pondok pesantren tersebut tidak lepas dari tantangan baik yang bersifat internal maupun eksternal, khususnya diera modern ini.
