Telphon Sakti dari Cikeas

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….ng.. (T)  Kriiiiiiiiiiiiiing…….. (T)

Saya       : Assalamu’alaikum.

Dia          : Wa’alaikumsalam, bisa bicara dengan Pak M. Niam?

Saya       : Ya saya sendiri, ada yang bisa saya bantu?

Dia          : Maaf pak, kami dari pihak kepresidenan mau memberitahukan bahwa anda sangat diharapkan kehadirannya di Puri Cikeas.

Saya       : Ada apa pak? Apa salah saya?

Dia     : Bapak tidak bersalah, Pak presiden hanya  ingin mengadakan uji kelayakan calon Mentri pak, dan bapak termasuk di dalamnya, jadi bapak diharapkan kehadirannya.

Saya       : Apa ndak salah memilih saya?

Dia          : Wah, kalo itu bisa bapak bicarakan saja dengan Presiden nanti.

Saya       : Kapan saya harus ke Cikeas?

Dia          : Jam 5 pagi pak.

Saya       : Betul jam 5 pagi? Apa ndak kepagian jam 5 pagi?

Dia          : Beneran jam 5 pagi, emang ini udah pagi, BANGUN BANGUN ! subuhan dulu!

Saya       : Ah…ternyata bener jam 5 pagi ;-)

Manisnya Iman

Atheis   : Kenapa anda beriman (percaya) kepada (adanya) Tuhan padahal anda tak bisa melihat-Nya?

Mu’min : Karena saya merasakan manisnya keimanan saya.

Atheis   : Bisakah anda menjelaskan maksud merasakan manis tanpa bisa melihat dan menyentuh-Nya?

Mu’min : Pernahkah anda makan permen?

Atheis   : Pernah dan sering.

Mu’min : Bagaimana rasanya?

Atheis   : Manis.

Mu’min : Bisakan anda melihat rasa manis tersebut?

Atheis   : Tidak.

Mu’min : Begitulah rasanya beriman pada Tuhan, kita bisa merasakan manisnya meski tidak melihat & menyentuh Tuhan.

Ayo, kita pertahankan budaya kita

Kemaren pagi  satu angkot dengan 2 wanita asal India ketika berangkat ke kampus. Yang menjadi buah pikiran saya saat memperhatikan mereka adalah apa yang mereka kenakan. Mereka mengenakan busana budaya mereka India, berbaju bercelana plus dengan selendang dan tanda hitam tepat di kening bagian tengah. Yang menjadi pertanyaan adalah; mereka kuliah di Indonesia tepatnya di UB Malang, tetapi mereka mau mempertahankan budaya mereka dengan berbusana ala India tanpa terpengaruh dan ikut-ikutan budaya modernis dengan baju dan jeans ketat, tindik di bibir atau hidung, dsb layaknya mahasiswi di Indonesia. Sedangkan banyak dari kita yang justru emoh melaksanakan budaya (tradisi) bangsa kita sendiri seperti memakai batik (meskipun kemaren sempat marak berbaju batik, ttp ini hanya sebentar). Baru ketika batik diaku-aku oleh Malaysia, kita kebakaran jenggot dan mengecam Malaysia. Coba kalau kita (baik pemuda maupun tua bahkan anak-anak) mau memakai batik dalam keseharian dan bukan hanya karena memperingati hari batik, saya yakin Malaysia tidak akan asal nyomot tradisi kita. Bagaimana pendapat anda???

Pesantren, antara modernisasi dan mempertahankan khittah

Pondok secara bahasa berasal dari kata Funduuk yang artinya tempat penginapan. Kemudian di Indonesia kata pondok ini bermakna perumahan sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar yang merupakan tempat tinggal santri dalam menuntut ilmu. Istilah pesantren sendiri secara etimologis asalnya pe-santri-an yang berarti tempat santri/ murid. Sehingga pesantren dimaknai sebagai tempat menuntut ilmu kepada Kyai dimana santri menempati tempat tinggal (pemondokan) yang ada.

Dulu, pusat pendidikan Islam adalah langgar masjid atau rumah sang guru, di mana murid-murid duduk di lantai, menghadapi sang guru, dan belajar mengaji. Waktu mengajar biasanya diberikan pada waktu malam hari biar tidak mengganggu pekerjaan orang tua sehari-hari. Menurut Zuhairini (1997:212), tempat-tempat pendidikan Islam nonformal seperti inilah yang “menjadi embrio terbentuknya sistem pendidikan pondok pesantren.” Ini berarti bahwa sistem pendidikan pada pondok pesantren masih hampir sama seperti sistem pendidikan di langgar atau masjid, hanya lebih intensif dan dalam waktu yang lebih lama.

More >

Kiai Pesantren masa depan

Secara teknis, pesantren adalah tempat dimana santri (penuntut ilmu) tinggal bersama dengan Kyai. Sejarah mencatat bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan pertama di Indonesia, sehingga tidak salah jika kemudian disebut sebagai lembaga indigenous indonesia. Sepanjang sejarahnya pula, lembaga Islam ini telah melahirkan ribuan bahkan lebih para lulusan yang berkualitas dan memberikan sumbangsih yang luar biasa bagi kemajuan Indonesia. Utamanya melahirkan Ulama’ yang bukan hanya diakui dinegara sendiri bahkan diakui negara Timur Tengah yang nota bene adalah sumber dari keilmuan Islam itu sendiri. Sebut saja Imam Nawawi al-Bantani yang pernah menjadi pengajar di Timur Tengah dan amat diakui intelektualitas keislamannya.

Seiring perkembangan zaman, pesantren agaknya mulai kewalahan dalam menghadapi persoalan yang ruwet dan kompleks diera global dan ditengah gencarnya arus modernisasi dari Barat. Sehingga tak jarang, pesantren yang masih memegang prinsip normativitas-sakralitas makin lama makin surut ditelan zaman.

More >