Generasi Bangsa dicetak dalam keluarga

Keluarga dalam Islam disebut usrah, nasl, ‘ali, dan nasb. Keluarga bisa terbentuk melalui perkawinan, persusuan, dan pemerdekaan. Kalangan antropologi memaknai keluarga sebagai kesatuan social terkecil yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk social yang memiliki tempat tinggal dan ditandai dengan kerja sama ekonomi, berkembang, mendidik, melindungi, merawat dan sebagainya. Sebuah keluarga minimal terdiri dari ayah, ibu dan anak.

Ahmad Tafsir dan juga banyak kalangan menilai bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan lebih penting. Ada dua alasan kenapa pendidikan di keluarga lebih penting:

  1. Pendidikan di keluarga memiliki frekuensi yang tinggi karena interaksi anak dan orang tua lebih lama ketimbang di sekolah, ataupun masyarakat.
  2. Pendidikan Agama adalah penanaman Iman, dan ini hanya mungkin dilaksanakan dalam bentuk nyata sehari-hari dan itu mungkin hanya dilakukan dirumah.

Ayah dan ibu memainkan peran penting dalam keluarga, selain yang kakek, nenek, paman, bibi, ataupun yang merasa bertanggung jawab terhadap perkembangan anak. Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan bahwa pendidikan anak yang terpenting adalah penanaman aqidah dan Tauhid. Hal ini seperti disabdakan Nabi: ” Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala).” (HR. Bukhari).

Kedua orang tua bertanggung jawab atas perkembangan anak. Ayah dengan sifat kepemimpinannya diharapkan mampu menjadi panutan bagi anak, sebagai tempat bersandar hingga merasa aman, sebagai konduktor bagi perkembangan social anak, menularkan sifat tanggung jawab, serta menjadi kebanggaan. Sedang ibu, dengan rasa kasih sayangnya diharapkan menjadi tempat mencurahkan isi hati, menularkan sifat kesetiaan dan kesabaran, lemah lembut, dan mampu mengatur anak dari sisi emosi. Dari berbagai metode pendidikan anak dalam keluarga, maka pendidikan keteladanan (qudwah) merupakan cara yang baik, bukan selalu dengan cara doktrin tanpa penjelasan.

images.jpg Dilihat dari tanggung jawab bagi orang tua bagi kemajuan perkembangan anak, maka ibu berperan lebih vital ketimbang ayah atau anggota keluarga lain karena memang kodrat wanita lebih cenderung kearah ini. Dalam sebuah syair arab dinyatakan “ibu adalah (lembaga) sekolah, ia dipersiapkan agar dapat membentuk bangsa yang baik dan kuat.”

Dalam perkembangannya ternyata ditemukan ibu mulai cenderung bersikap kurang peduli pada perkembangn anak. Hal ini akibat dari sebagian ibu yang sibuk dengan kehidupan luar hingga melupakan anak dan keluarga, hingga tak heran anak-anaknya menjadi anak yang terkendali karena kehilangan panutan, kasih sayang, tempat mengadu, serta teladan. Dalam syair dinyatakan: “Orang yatim bukanlah orang yang ditinggalkan kesusahan hidup sehingga ia hina oleh ayahnya, tetapi sesungguhnya yatim adalah seorang yang ibunya tidak memperdulikan pendidikannya sedang ayahnya sibuk selalu.”

Leave a comment

3 Comments.

  1. Emang betul tu (y) , kalu bukalah dari keluarga dari siapalah lagi generasi Islam ni maju.

  2. Semoga saya mampu mengemban tugas sebagai seorang ibu. Amiin..
    .-= Tulisan terakhir Pecinta Kuliner ..Banana Pudding =-.

  3. mungkin…benar…tapi keluarga hnyalah satu diantara beberapa aspek yang kan menjamin kesuksesan seseorang….barakallahu lak.. :setuju:

Leave a Reply


[ Ctrl + Enter ]