Secara teknis, pesantren adalah tempat dimana santri (penuntut ilmu) tinggal bersama dengan Kyai. Sejarah mencatat bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan pertama di Indonesia, sehingga tidak salah jika kemudian disebut sebagai lembaga indigenous indonesia. Sepanjang sejarahnya pula, lembaga Islam ini telah melahirkan ribuan bahkan lebih para lulusan yang berkualitas dan memberikan sumbangsih yang luar biasa bagi kemajuan Indonesia. Utamanya melahirkan Ulama’ yang bukan hanya diakui dinegara sendiri bahkan diakui negara Timur Tengah yang nota bene adalah sumber dari keilmuan Islam itu sendiri. Sebut saja Imam Nawawi al-Bantani yang pernah menjadi pengajar di Timur Tengah dan amat diakui intelektualitas keislamannya.
Seiring perkembangan zaman, pesantren agaknya mulai kewalahan dalam menghadapi persoalan yang ruwet dan kompleks diera global dan ditengah gencarnya arus modernisasi dari Barat. Sehingga tak jarang, pesantren yang masih memegang prinsip normativitas-sakralitas makin lama makin surut ditelan zaman.
Jika mengacu pada teori shifting paradigm Thomas Khun, bahwa aktifitas keilmuan akan selalu melahirkan teori-terori baru manakala masalah-masalah yang ada tidak dapat diselesaikan dengan teori yang ada, sehingga akan muncul paradigma dengan teori yang baru. Maka seharusnya begitulah paradigma pesantren era sekarang. Pesantren yang selalu melakukan transformasi dan inovasi guna menghasilkan formula dan ide-ide guna memecahkan persoalan masyarakat global sekarang.
Penulis melihat, banyak pesantren yang masih terkungkung dengan dogmatisme atau normativitas yang dibuat oleh mereka sendiri. Pesantren masih banyak berkutat pada wilayah Fiqh, Tafsir, Hadist, dan sebagainya (dengan tanpa bermaksud mengatakan bahwa ilmu-ilmu ini tidak penting) tanpa mau membuka diri pada aspek historis-empiris dan keilmuan lain seperti sosiologi, ilmu alam, antropologi, dan ilmu umum lainnya. Sehingga yang terjadi adalah alumni pesantren yang merasa teralienasi ketika mereka kembali kemasyarakat.
Menurut Neo-Modernismnya Fazlur Rahman, adanya stagnasi dan kejumudan Islam disebabkan pemahaman umat muslim masih bersifat parsial, tidak mau melihat Islam secara kaffah (keseluruhan). Paradigma sebagian muslim yang normatif atau sebaliknya historis-empiris secara parsial menguatkan akan hal ini. Dan parahnya, hal ini dilakukan oleh Lembaga Pendidikan yang menjadi lokomotif keberagamaan dan intelektual serta menjadi urat nadi dari semua denyut kehidupan muslim.
Dalam teori ilmu manajemen, ditemukan bahwa kemajuan sebuah organisasi bergantung pada kecakapan/ kemampuan leader organisasi tersebut dalam memanage organisai/ perusahaannya. Maka jika dikaitkan dengan pesantren, kemajuan pesantren akan sangat bergantung pada pemimpinnya yang dalam hal ini Kyai. Bagaimana seorang Kyai dapat memanage pesantren dengan berbagai aspeknya merupakan point keberhasilan pesantren tersebut.
Tentu, yang dibutuhkan adalah Kyai yang memiliki integralitas keilmuwan yang mumpuni, bervisi jauh kedepan, transformator, dan memiliki sifat-sifat yang mutlak ada bagi seorang Kyai yaitu; Amanah, sidq, ‘adl, ihsan wa hasanah, karam al-ikhlq, sabr, afwu’, samahah (toleran), kharismatik, mempunyai kemampuan dibidang Agama serta taat menjalankannya (religiousness), juga peka terhadap sosial masyarakatnya (religious mindness).
Kyai yang memiliki integralitas keilmuwan, berarti Kyai yang mempunyai wawasan bukan hanya dalam bidang Agama, tetapi yang mempunyai wawasan keilmuan diluar itu. Ini menjadi penting, mengingat pengetahuan Agama saja tidak cukup untuk melihat perubahan yang ada pada tataran makro bahkan mikro sekalipun. Penguasaan akan keilmuan ini kemudian akan menentukan bagaimana sikap, misi serta visi pesantren yang dipimpinnya.
Dengan mempunyai misi dan visi jelas kedepan, serta sikap transformatif yang ada pada diri Kyai, diharapkan pesantren bisa terus melakukan kegiatan atau transformasi diberbagai bidang seperti kurikulum, upgrading Guru, manajemen, ekonomi pesantren, hubungan antar pesantren, pengembangan pesantren, serta hubungan sosial pesantren dengan masyarakat dengan berpegang pada diktum “al-Muhaafazhatu `ala al-qadiim al-shaalih wal-akhdzu bil-jadiid al-ashlah (Memelihara warisan lama yang masih baik, namun jika ada kreasi baru yang lebih baik, maka yang baru itulah yang dipakai).
Tentunya, hal yang juga mutlak dimiliki oleh seorang Kyai sebagai pemimpin sekaligus teladan bagi santri dan masyarakat adalah dimilikinya sikap Amanah, sidq, ‘adl, ihsan wa hasanah, karam al-ikhlq, sabr, afwu’, dan samahah (toleran) yang dengan ini akan melahirkan dan menjaga wibawa (kharismatik) seorang Kyai. Serta ditopang dengan kemampuan dibidang Agama serta taat menjalankannya (religiousness), juga peka terhadap sosial masyarakatnya (religious mindness).
Diharapkan, Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam indigenous mampu kembali bangkit dan menjadi primadona bagi para Tullab al-’ilmi. Dan hal ini hanya bisa terjadi jika pesantren mempunyai paradigma transformatif, integral, serta bisa mengapresiasi dan mewujudkan harapan masyarakat sekitar juga masyakarakat Muslim pada umumnya, tetapi tetap berdiri kokoh pada khittahnya sebagai Pesantren. Tentu, munculnya pesantren masa depan ini hanya akan terjadi jika pesantren dipimpin oleh Kyai ideal. Wallahu a’lam bis showab.
Ketemu PERTAMAAXX juga nih hihihi…
Kiyai ideal sudah mulai muncul sebenarnya, namun pada perkembangannya sarana media informasi yang masih dikuasai oleh kalangan non-muslim, sering membuat paradigma yang menjatuhkan keberadaan pesantren tersebut.
Sebut saja Pondok Pesantren Daarut Tauhid (DT) yg dipimpin oleh AA Gym, menurut saya DT memiliki misi yang bagus sebagai ponpes modern.
Ponpes Tebu Ireng juga merupakan ponpes yang telah menghasilkan begitu banyak tokoh di republik ini.
Insya Allah pesantren akan tetap menjadi primadona di dunia pendidikan di Indonesia.
.-= Tulisan terakhir Pecinta Kuliner ..Banana Pudding =-.
boleh kenalan ga’…? :joged:
kebetulan saat ini saya tengah berada di pesantren modern…dan alahamdulillah, eksistensi nuansa khas pesantren masih sangat terasa…hal ini disebabkan keteguhan sang pemegang kendali untuk mempertahankan pesantren ini, selain itu…dukungan dari masyarakat juga memberikan aliran semangat sehingga pesantren saya dapat mempertanggungjawabkan tugasnya untuk bangsa dan agama. :mantab: :mantab:
Boleh tahu di pesantren mana sekarang tinggal?
di pondok pesantren nurul jadid paiton-probolinggo jawa timur…