Senang, deg-degan juga rasa takut hari itu bercampur baur dalam dirinya. Sebentar-bentar dia keluar kamar hanya untuk sekedar menyalurkan percampuran rasa hatinya pada alam dan manusia yang saat itu juga sedang banyak dirumahnya. Hari itu memang H-1 pernikahannya dengan seorang pujaan. Sembari terus menghafal “kalimat sakti” yang sebenarnya sudah hafal diluar “dengkul” karena saking hafalnya. Tetapi percampuran rasa membuatnya kadang lupa.

Pada hari H, perasaan itu memuncak dan klimaksnya adalah ketika harus mengucapkan kalimat sakti “Ijab Qabul”. Ketegangan menyelimuti semua keluarga yang berharap si pengucap kalimat sakti bisa dengan lancar dan tanpa harus mengulangi 2, 3, 4 atau bahkan 10 kali untuk menjadikan si pujaan hati sah menjadi miliknya. Dan….ketika si mempelai putra berhasil mengucapkan dengan lancar, pecahlah ketegangan itu berganti senyuman kebahagiaan yang tak terlukiskan. Suasana sakral yang ada membuat semuanya tegang dan begitu menghormati acara pernikahan khususnya “Ijab Qabul” antara dua mempelai. Tetapi, dibalik sakralitas itu tersimpan kebahagiaan yang luar biasa. Kebahagiaan  hanya bagi mereka yang “SIAP” untuk mengarungi kehidupan berbeda, kehidupan yang sempurna.