Posts tagged Indonesia
Model Iklan Kost di Indonesia
Nov 2nd
Bagi sebagian orang mungkin ini sudah basi, tetapi bagi saya ini baru. Meskipun sebenarnya sudah lama saya melihatnya disekitar kampus, tetapi baru kali ini hal itu membuat pikiran saya tergelitik. What’s that? it’s about iklan/ tulisan di tiap depan rumah yang menyediakan kost. Apanya yang lucu?, bukan lucu sebenarnya, tapi lebih kearah kreatif atau bisa juga rasa was-was. Ada tulisan iklan seperti ini “MENERIMA KOST LAKI-LAKI”/ “MENERIMA KOST PEREMPUAN”, barangkali yang ini masih biasa. Ada juga tulisan “MENERIMA KOST LELAKI/ PEREMPUAN YANG SOPAN”, di sini saya bingung, bagaimana ukuran sopan itu menurut Ibu kost?. Barangkali akan ada wawancara dulu antara penyewa dengan Ibu kost, sehingga dari situ ditentukan apakah si penyewa sopan atau tidak. Tetapi ada juga yang menuliskan dengan sedikit jelas, misalnya “MENERIMA KOST PUTRA / PUTRI YANG TIDAK MEMAKAI TINDIK DAN TIDAK BERTATTO”, ini barangkali disebabkan banyak kejadian tidak mengenakkan disebabkan oleh anak kost yang bertatto dan bertindik (sekali lagi mungkin). Tulisan lain, “MENERIMA KOST PEREMPUAN BERJILBAB”, yang ini barangkali ibu kostnya taat beragama. Yang parah menurut saya adalah iklan dengan tulisan “MENERIMA KOST PEREMPUAN TANPA JAM MALAM”, hemm…anda bisa bayangkan sendiri dah.
Mau dibawa ke mana Indonesiaku?
Oct 25th
Dalam magnum opusnya “Muqaddimah”, Ibn Khaldun menjelaskan tentang tahap-tahap timbul tenggelamnya suatu negara menjadi lima tahap, yaitu : Tahap konsolidasi, dimana otoritas negara dengan dasar “demokrasi” didukung oleh masyarakat (`ashabiyyah). Tahap tirani. Tahap penyalahgunan wewenang otoritas negara untuk kepentingan penguasa. Tahap pengamanan dari munculnya ancaman dimana penguasa selalu memandang kelompok kritis sebagai lawan. Dan tahap keruntuhan, dimana sistem kekuasaan tidak lagi berfungsi.
Tahap-tahap itu menurut Ibnu Khaldun memunculkan tiga generasi, yaitu: Generasi Pembangun, yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya. Generasi Penikmat, yakni mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan , menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. Generasi yang tidak lagi memiliki hubungan emosionil dengan negara. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa mempedulikan nasib negara. Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga ini, maka keruntuhan negara sebagai sunnatullah sudah di ambang pintu, dan menurut Ibnu Khaldun tiap proses ini berlangsung sekitar satu abad.
Telphon Sakti dari Cikeas
Oct 18th
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….ng.. (T) Kriiiiiiiiiiiiiing…….. (T)
Saya : Assalamu’alaikum.
Dia : Wa’alaikumsalam, bisa bicara dengan Pak M. Niam?
Saya : Ya saya sendiri, ada yang bisa saya bantu?
Dia : Maaf pak, kami dari pihak kepresidenan mau memberitahukan bahwa anda sangat diharapkan kehadirannya di Puri Cikeas.
Saya : Ada apa pak? Apa salah saya?
Dia : Bapak tidak bersalah, Pak presiden hanya ingin mengadakan uji kelayakan calon Mentri pak, dan bapak termasuk di dalamnya, jadi bapak diharapkan kehadirannya.
Saya : Apa ndak salah memilih saya?
Dia : Wah, kalo itu bisa bapak bicarakan saja dengan Presiden nanti.
Saya : Kapan saya harus ke Cikeas?
Dia : Jam 5 pagi pak.
Saya : Betul jam 5 pagi? Apa ndak kepagian jam 5 pagi?
Dia : Beneran jam 5 pagi, emang ini udah pagi, BANGUN BANGUN ! subuhan dulu!
Saya : Ah…ternyata bener jam 5 pagi
Partai Islami YES, PKS NO
Oct 11th
Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung PKS dan juga kadernya, bukan berarti juga saya murtad karena tidak mendukung PKS yang menurut sebagian orang di indonesia benar-benar partai yang menjalankan syari’at islam atau sesuai dengan politik islam. Tulisan ini sebenarnya terilhami dari tulisan almarhum cak Nur yang mengatakan Islam yes partai Islam No. kebalikannya, saya mengatakan partai islam yes, PKS no. seiring dengan berubahnya waktu, barangkali cak nur juga akan berkata sama, tetapi sekali lagi itu mungkin.
Memasuki era reformasi, Indonesia seolah kehilangan arah, limbung. Ibarat kuda yang lepas dari kandang karena terikat kuat di zaman orde baru, masyarakat kita berbuat semaunya sendiri dengan dukungan reformasi yang mereka sendiri belum memahami betul apa maksud dari reformasi tersebut. Semuanya seolah tanpa batas, tanpa halangan.
