Secara bahasa, jahiliyah berasal dari kata kerja jahala yang berarti bodoh, maka secara harfiyah bisa disimpulkan bahwa bodoh bisa diartikan sebagai tidak bisa membaca, menulis, menjawab soal, atau melakukan hal-hal yang mayoritas orang bisa melakukannya, atau bodoh juga berarti tidak mempunyai pengetahuan ilmiah, primitif, tidak berperadaban dan sebagainya. Dalam kajian Islam, kata jahiliyah sering disematkan kepada Arab pra-Islam. Hanya saja, pengertian jahiliyah yang disematkan kepada Arab pra Islam berbeda dengan arti jahiliyyah secara bahasa.

Mari kita berfikir sejenak, bukankah bangsa Arab sebelum Nabi Muhammad SAW terkenal dengan kemahiran dibidang Sya’ir? Tidakkah kita tahu bahwa bangsa Arab adalah mereka yang selalu menjaga tradisi dengan menghafal runtutan nasab mereka hingga runtutan yang sejauhnya?. Dengan demikian kata jahiliyyah yang disematkan kepada Arab pra-Islam bukan bermakna bodoh dan primitif. M. Quraish Shihab dalam Mukjizat Al Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaaan Ghaib (Mizan, 1999) menyebut beberapa pengetahuan yang dimiliki masyarakat Arab, diantaranya dalam bidang: Astronomi, tetapi terbatas pada penggunaan bintang untuk petunjuk jalan, atau mengetahui jenis musim. Meteorologi, mereka gunakan untuk mengetahui cuaca dan turunnya hujan. Pengobatan berdasarkan pengalaman. Perdukunan dan semacamnya. Bahasa dan Sastra (sering diadakan musabaqah [perlombaan] dalam menyusun syair atau petuah dan nasehat. Syair-syair yang dinilai indah, digantung di Ka’bah, sebagai penghormatan kepada penggubahnya sekaligus untuk dapat dinikmati oleh yang melihat atau membacanya. Penyair mendapat kedudukan yang istimewa. Mereka dinilai sebagai pembela kaumnya. Dengan syair mereka mengangkat reputasi satu kaum atau seseorang dan juga sebaliknya dapat menjatuhkannya).

More >